• Home
  • Lifestyle
  • Anak Berprilaku Kasar Di Media Sosial, Ini Sebabnya
Kamis, 21 Januari 2016 | 11:12:15

Anak Berprilaku Kasar Di Media Sosial, Ini Sebabnya

Aktualonline.com,-- Melihat aktivitas remaja masa kini di media sosial, sering kali kita dibuat syok. Kok, mereka kasar-kasar, ya? Bully sana, bully sini. Sedikit berbeda pandangan, bisa memicu kemarahan. Tidak jarang hinaan fisik digunakan untuk menyerang lawan. Padahal bisa jadi mereka tidak saling kenal secara pribadi.

 

Waspadai lahirnya generasi pelaku bullying

Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia mencoba mengungkap fenomena ini. Bahwa berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) saja, untuk periode tahun 2011-2014, laporan kasus perundungan menempati peringkat pertama, dengan perincian sebanyak 369 dari total 1.480 kasus.

 

"Kekerasan terhadap anak meningkat, termasuk perundungan. Tapi, memang belum ada data khusus tentang perundungan lewat media sosial," beri tahu Vera. "Namun bisa sedikit dibuat kesimpulan, antara lain, karena anak-anak kita terpapar konten kekerasan secara berlebihan, baik lewat televisi, gawai, game, dan lain-lain."

 

Salah satu penyebab utama remaja bertingkah laku seperti itu menurut Vera karena remaja belum punya kemampuan penuh untuk mengambil tindakan tepat dan dengan pertimbangan matang antara rasio dan emosi. "Remaja masih lebih banyak didominasi emosi. Jadi, ketika emosi terpancing, reaksi mereka lebih emosional dan juga tidak memperhitungkan akibatnya pada orang lain," terang Vera.

 

Perihal mengapa lewat media sosial, itu hanyalah sebagai satu media terbaru. Lagi-lagi, ketidakmatangan rasio ikut mempengaruhi bagaimana remaja memperlakukan teknologi. "Kebanyakan remaja beranggapan gawai adalah milik pribadinya. Maka ranah media sosial juga punya dia. Mereka tidak menyadari bahwa media sosial merupakan ranah publik. Artinya, akan ada konsekuensi yang melibatkan orang lain, misalnya menyakiti," papar Vera.

 

Perundungan Bisa Menyebabkan Candu

Tidak ada ciri-ciri yang pasti, tapi pelaku perundungan menurut Vera biasanya adalah seseorang yang sudah terbiasa dengan kekerasan, memiliki kesulitan mengendalikan amarah, manipulatif atau terbiasa mengontrol orang lain dan situasi, cepat menyalahkan orang lain, tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka, memiliki kebutuhan tinggi untuk menang atau menjadi yang terbaik dalam segala hal, atau pencari perhatian tingkat tinggi.

 

Jika tidak segera diatasi, perilaku perundungan akan menjadi kebiasaan. Tidak menutup kemungkinan menjadi karakter yang menetap hingga mereka dewasa. Karena tidak dipungkiri, melakukan bullying dapat memberi "kesenangan".

 

"Pelaku perundungan ini akan mendapatkan sense of power atau perasaan memegang kendali, juga kepuasan mendapatkan apa yang diinginkan," ungkap Vera. Oleh karenanya, walau remaja berkonflik dengan teman atau lingkungan pergaulannya dianggap lumrah, pengajaran yang tepat tetap perlu diberikan. "Mereka perlu diajari bagaimana menyelesaikan konflik dengan cara yang tepat," sambungnya.

 

Solusi

Karena solusi tidak hanya untuk mereka yang posisinya menjadi korban bullying. Ketika anak berada dalam posisi pelaku pun, orang-orang di sekitar pelaku, terutama orang tua, harus mencari solusinya. Vera menganjurkan beberapa hal berikut.

 

- Terapkan disiplin positif di rumah

Fokuslah pada pemberian penghargaan ketika mereka melakukan hal yang positif, bukan pada pemberian hukuman ketika mereka salah.

 

- Lebih banyak luangkan waktu bersama

Jangan berpaku pada kuantitas, melainkan kualitas kebersamaan. Misalnya, sebelum tidur biasakan ada sesi berkumpul bersama di teras rumah.

 

- Awasi pergaulan sosial mereka

Menjadi teman mereka di media sosial, mengapa tidak? Namun, mainkan dengan cantik agar mereka merasa sedang berteman dengan Anda, bukan sedang diawasi.

 

- Kenali dan bantu mereka mengembangkan minat dan bakat

Dengan fokus pada hal lain yang mereka sukai, dunia mereka tidak akan dipenuhi urusan yang tidak penting.

 

- Beri penghargaan terhadap apa yang mereka lakukan, sekecil apa pun langkahnya

Jika mereka melakukan satu kebaikan, jangan luput dari perhatian Anda. Berikan respek.

 

- Kurangi paparan kekerasan dari televisi atau game

Sebagai orang tua, kontrol terbesar tetap di tangan Anda. Atur jenis tontonan atau game yang boleh mereka miliki di rumah. Walau hanya di rumah, masih jauh lebih baik ketimbang tidak sama sekali.

 

- Beri contoh bagaimana mengatasi rasa marah

Jika orang tua saja berperilaku emosional, bagaimana anak akan memiliki panutan yang baik?

 

- Ajari mereka cara untuk meminta maaf

Terkesan sepele, tapi dampaknya amat besar ketika mereka bisa atau bahkan terbiasa untuk berani meminta maaf. Pengendalian emosi akan terlatih, bonus kerendahan hati.

 

Editor : Alfin

Sumber : Kapanlagi.com


BERITA LAINNYA
Selasa, 19 Januari 2016 | 12:49:55
5 Hobi Ini Terbukti Ampuh Menangkal Stres
Selasa, 19 Januari 2016 | 12:29:45
5 Makanan dan Minuman yang Bikin Anda Terlihat Tua
Rabu, 13 Januari 2016 | 11:34:45
Bahaya Menyimpan Smartphone di Saku dan Bra
Rabu, 13 Januari 2016 | 11:28:47
20 Rahasia yang Membuat Hubungan Awet Seumur Hidup
Jumat, 8 Januari 2016 | 09:20:35
Orang Kaya Arab Habiskan Rp 3,6 Miliar
Selasa, 10 Maret 2015 | 15:30:17
Hati-Hati Beli Batu Mulia Lewat Online
BERIKAN KOMENTAR
Top