Jumat, 21 Februari 2020 | 00:13:33

Pembangunan PKS PT. SSS Inhu Dipertanyakan

Foto/Ist
Progres Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit PT. Sanling Sawit Sejahtera ( PT. SSS ) INHU
BERITA TERKAIT:

aktualonline.com.PEKANBARU ||| Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit, yang merupakan industri penghasil CPO di Desa Rimpian Kecamatan Lubuk Jaya Kab. Inhu, yang dibangun oleh Perusahaan PT. SSS, belakangan menjadi sorotan sejumlah pihak, sebagaimana marak dalam pemberitaan media.

 

Informasi yang berhasil dihimpun awak media ini, baik dari pihak aktivis lingkungan, maupun dari Pengamat dan sumber-sumber lainya mengatakan bahwa permasalahan yang terjadi dalam pembangunan pabrik kelapa sawit itu adalah diduga kuat akan mencemari sungai Desa Rimpian dan Sumber Air Bersih pada PDAM yang ada di sepanjang Sungai tersebut.

 

Menurut sumber yang telah turut melakukan investigasi dilapangan mengatakan, bahwa pengamat hukum, Justin P. S.H memberikan hasil analisanya terkait pendirian Industri CPO itu, masih sangat berpotensi memberikan dampak lingkungan yang buruk khususnya melalui limbah yang tercemar ke sungai dan Volusi udara akibat asap pabrik.

 

Bahkan masyarakat, melalui pengamat hukum Justin P SH berharap kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Inhu dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau agar mengevaluasi rekomendasi UKL-UPL, Izin lingkungan ataupun Izin buang limbah cair yang diterbitkan.

 

"Jika pembangunan tetap dilanjutkan masyarakat meminta jaminan kepada pihak perusahaan ataupun pemerintah dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten dan Provinsi, bahwa air limbah yang dibuang ke sungai tidak akan mencemari atau mempengaruhi kualitas air sungai," kata Justin.

 

Adanya statement Kadis DLH Inhu di media online yang mengatakan jarak IPAL dan PDAM 4,5 kilometer, menurut Justin, itu statement tidak benar dan terindikasi berbohong,.

 

"Setelah kita lakukan pengukuran jarak antara IPAL PKS PT SSS dengan PDAM hanya berjarak 3 kilometer, itu pun bukan kita ambil garis lurus," katanya.

 

Bagaimana tidak kawasan berdirinya PT.SSS sekitarnya juga diketahui adalah kawasan rawan banjir, dan bukan itu saja dengan berdirinya PT.SSS ternyata  jembatan yang merupakan akses masyarakat pun disebut  roboh karena di lalui container milik perusahaan.

 

Oleh karena itu, Pemerintah setempat dan Dinas terkait, di minta agar menghentikan pembangunan PABRIK PKS PT SSS , dan Izin yang diberikan di duga hanya berbau kepentingan.

 

"Memang berdirinya pabrik dapat membantu pertumbuhan ekonomi  masyarakat, tapi disisi lain asap Co2 yang dihasilkan pabrik itu akan berdampak ke anak cucu kami, baik hari ini maupun di kemudian hari kita harus pikirkan pak "ungkap salah satu sumber yang meminta namanya dirahasiakan.

 

Pabrik yang terletak di permukiman masyarakat di duga tidak sesuai dengan Peraturan daerah tentang HoO, SITU, SIPA (Surat Izin Penggunaan Air ), Izin pengendalian pembuangan limbah cair(Ip2lc),Izin usaha pengelolahan perkebunan.

 

Atas informasi tersebut diatas, yang berhasil diterima awak media ini, selanjutnya dilakukan konfirmasi secara elektronik kepada General Menager ( JM ) PT. SSS, Lukas Amin Adji dalam tanggapanya mengatakan, bahwa pihaknya telah melakukan semua prosedural sebagaimana dalam UU No.3 tahun 2014.

 

"Standarisasi Kolam Pembuangan limbah PKS  PT SSS Nantinya akan  sesuai standar, sebab proses limbah B3 bersikulasi dari kolam 1 hingga kolam 11  pada  kolam ke 12 air yang dialirkan ke kolam 13  sudah benar benar steril sebab pada kolam ke 13 disana dibuat budidaya ikan tawar yang nantinya akan dipanen setahun sekali, dan dari sana (kolam 13) lah pembuangan air bekas limbah atau yang tadinya kotor setelah bersih dialirkan atau dibuang ke parit kanal (sebelum ke Sungai) yang jauhnya mencapai 4,5 km yang sudah diukur oleh tem dinas lingkungan hidup kabupaten Inhu beberapa waktu lalu ( bahkan sudah diekpos) DLH, " Tulis Adji dalam akun WA.

 

Bahkan Adji juga mengatakan lewat tulisan di WA nya, pihaknya  telah memastikan jarak antara sumber PDAM dengan Intalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik PT SSS sejauh 4,5 Km, yang sebelum dibuang tentunya melalui proses yang panjang yang pada akhirnya masuk ke kolam 13, dimana disana terdapat mahluk hidup baik berupa hewani maupun tumbuhan, dan kolam ini  juga menjadi  acuan guna menakar sejauh mana proses yang sudah dilakukan.

 

"Sebelum kami menjawab lebih jauh, Perlu kami pertanyakan terlebih dahulu ke pada saudara ...sejauh ini kami belum dapat mengetahui Masyarakat yang mana yang berkeberatan atas pembangunan PKS PT SSS... Sampai saat ini belum ada wajah wajah yang muncul menyatakan keberatan," Tulisnya.

 

Menurut Adji sejauh ini pihaknya merasa didukung sepenuhnya oleh seluruh masyarakat setempat, itu dikatakanya sebab selama progres pembangunan pabrik, pihaknya tidak melihat adanya masyarakat yang keberatan.

 

"Dan sangat Aneh bagi kami sebab masyarakat , Pemerintahan Desa , pemerintahan kecamatan di seputar lingkungan kecamatan LBJ mendukung atas pembangunan PKS ini, jadi sekali lagi kami mempertanyakan Kepada saudara .. Masyarakat yang mana yang keberatan atas pembangunan PKS ini ???," tulisnya lagi.

 

Bahkan Adji dalam surat elektronik melalui WA nya memberikan penilaianya atas sejumlah pertanyaan waetawan yang dianggapnya tidak layak dipertanyakan, karena menurutnya pihaknya telah melakukan semua kewajibanya sebelum perusahaan itu berdiri.

 

"Pertanyaan ini juga tidak selayaknya saudara ajukan kepada kami, sebab sebelum melakukan pembangunan PKS tentunya pihak pemerintah sebagai Pembinaan kepada investor atau  calon investor mengkaji segala bentuk kemungkinan yang  ada. Tentunya Pemerintah  merujuk dan mengacu pada UU No. 3 tahun 2014  tentang Perindustrian," terang Adji. Feri/nbb

 

 

 

 

 

Editor : Feri S


BERITA LAINNYA
Kamis, 5 Maret 2020 | 23:27:22
Korban Meninggal di Areal Kolam Limbah PT.RAPP
BERIKAN KOMENTAR
Top