• Home
  • Pekanbaru
  • Pansel KPK Pilih Sosok yang Memiliki Rekam Jejak “Bermasalah”
Sabtu, 14 September 2019 | 00:39:39

Pansel KPK Pilih Sosok yang Memiliki Rekam Jejak “Bermasalah”

Foto/Ist
Pansel KPK Pilih Sosok yang Memiliki Rekam Jejak “Bermasalah”
BERITA TERKAIT:

aktualonline.com.PEKANBARU ||| Terpilihnya pimpinan lembaga anti rasuah atau KPK RI, Irjen Pol. Firli mengundang sejumlah permasalahan, baik dikalangan pejabat KPK maupun di masyarakat, tak tekecuali di antara para pakar dan praktisi hukum.

 

Permasalahan pun diketahui ternyata bukan sekedar kelemahan kecil dari sosok terpilih, melainkan diduga ada perihal serius dari sosok Irjen Pol. Firli yang disebut-sebut sebagai pembohong dan memiliki rekam jejak yang tidak baik selama berada diinternal KPK selama periode lalu.

 

"(Gelisah karena) dia sudah berbohong. Dia bilang dia tidak pernah melanggar kode etik, ternyata tidak pernah komisioner bilang seperti itu. Berarti dia sudah bohong," ujar Saor, dikutip dari kompas.com

 

Bahkan Saor Siagian pun menyorot kinerja pansel capim KPK, yang menurutnya tidak etis jika pansel capim KPK tetap memilih sosok pemimpin KPK yang justru bermasalah secara etos kerja, dan diduga melakukan pertemuan-pertemuan dengan calon tersangka dalam kasus korupsi yang ditangani oleh KPK, bahkan Irjen Pol. Firli telah menerima 500 tanda tangan bukti penolakan dari internal petugas KPK

 

Menurut Saor, penolakan tersebut harus menjadi alarm bagi Pansel Capim KPK dalam menyaring 10 nama capim KPK yang diserahkan kepada Presiden.

 

"Saya bayangkan saya bisa suarakan ini bukan hanya 200 tetapi 500, barangkali ini pesan kepada Pansel apakah dia akan memilih orang yang akan ditolak, ya terserah, tetapi itulah peran-peran yang bisa kita lakukan sebagai publik," kata Saor.

 

Saor mengatakan, penolakan itu berasal dari penyidik dan pegawai lainnya yang merasa gelisah karena Firli pernah melanggar kode etik saat menjabat sebagai Direktur Penindakan KPK dan tidak mengakuinya.

 

Selain itu juru bicara KPK, Febri Diansyah juga menegaskan untuk menimpali jawaban Irjen Pol. Firli ketika mengaku bahwa ia tidak benar melanggar kode etik KPK, justru hal itu disebut Febri sebagai jawaban yang tidak benar. Karena Menurutnya ketika perihal itu dikonfirmasi pihaknya kepada pimpinan KPK, justru pimpinan KPK disebut tidak pernah mengatakan bahwa Firli tidak bersalah.

 

"Setelah saya cek ke pimpinan KPK,kami pastikan informasi tersebut tidak benar, Pimpinan KPK tidak pernah menyatakan, apalagi memutuskan, tidak ada pelanggaran etik oleh mantan pegawai KPK (Firli) yang sekarang sedang menjalani proses pencalonan sebagai pimpinan KPK," kata Febri.

 

Febri menyatakan, pemeriksaan Direktorat Pengawasan Internal (PI) atas dugaan pelanggaran kode etik Firli selesai pada 31 Desember 2018.

 

Dalam proses pemeriksaan, Firli pernah diperiksa pada awal Desember 2018.

Fokus tim PI, lanjut Febri, bukan hanya pada pertemuan Firli dengan TGB, tetapi juga dengan pihak lain.

 

"Informasi yang saya terima ada pertemuan dengan orang yang sama, ada pertemuan dengan pihak lain. Itu yang didalami tim pemeriksa internal," katanya.

 

Kemudian, lanjut Febri, hasil pemeriksaan diserahkan ke pimpinan KPK pada 23 Januari 2019.

 

Pimpinan kemudian menugaskan Dewan Pertimbangan Pegawai (DPP) membahas lebih lanjut terkait hasil pemeriksaan itu.Namun, seperti yang telah disebut di atas, proses ini tidak bisa tuntas karena Firli telah ditarik oleh Polri.

 

Namun, Febri memastikan, KPK telah menyerahkan data terkait rekam jejak tersebut kepada Pansel Capim KPK.

 

"KPK tidak dapat membuka Informasi lebih rinci. Namun, kami sudah memberikan informasi yang cukup pada pihak panitia seleksi," ujar dia, dikutip dari Kompas.com.

 

Terkait hal ini sejumlah kalangan dari masyarakat pemerhati dan praktisi pemantau korupsi angkat bicara, sebut saja ketua LSM Penjara, Dwiki Zulkarnaen di Pekanbaru Provinsi Riau mengatakan bahwa ini menjadi catatan buruk bagi anggota DPR RI yang menetapkan Irjen Pol. Firli sebagai Pimpinan KPK.

 

" Ada apa dengan anggota DPR RI khususnya Komisi III yang memilih Irjen Pol Firli sebagai pimpinan KPK yang baru, karena jelas-jelas sosok Firli ternyata bermasalah secara kode etik dan diduga kerap melakukan pertemuan-pertemuan dengan calon tersangka yang sedang ditangani oleh KPK sendiri, "katanya.

 

Menurut Dwiki selaku pimpinan lembaga masyarakat pemantau korupsi di Provinsi Riau, sangat kecewa atas kinerja pansel capim KPK periode 2019 - 2024 yang disebutnya diduga terjadi konspirasi by design dengan dasar keterangan juru bicara KPK yang mengatakan telah memberikan berkas lengkap tentang jejak rekam burik Firli selama betugas di Deputi penindakan KPK.

 

"Terpilihnya sosok yang sudah diketahui bermasalah dan diduga melanggar sistem dalam internal KPK sendiri, kan ini sangat jelas sebuah suguhan sandiwara DPR RI dan Pansel, disini kita lihat komitmen Presiden, apakah Presiden akan membiarkan ini ? ," terang Dwiki.

 

Dari sisi mekanisme pemilihan Capim KPK tersebut, diamana Sebelumnya pihak KPK telah menyerahkan sejumlah berkas terkait jejak rekam Firli untuk bahan pertimbangan pansel, namun ternyata akhirnya pansel juatru tetap memilih Irjen Pol. Firli, hal ini mendapat sorotan dari Doktor Hukum Pidana Riau, Dr. M. Nurul Huda, S.H.,M.H. dengan mengatakan Presiden masih bisa menyelamatkan KPK dengan melakukan berbagai pertimbangan dan masukan dari KPK dan teman2 aktivis anti korupsi.

 

"KPK ini selain lembaga pencegah dan pemberantasan korupsi, juga sebagai lembaga integritas. Tidak akan mungkin rakyat percaya sepenuhnya dengan KPK apabila ada capim yang terpilih bermasalah secara integritas dan etika. Rasanya ini perlu dipertimbangkan oleh pak Presiden Jokowi sebelum menetapkan serta memutuskan untuk mengangkat capim terpilih untuk memimpin KPK 4 tahun kedepan," sebut Ahli pidana ini.||| Feri Sibanrani

 

 

 

 

 

Editor : Feri Sibarani


BERITA LAINNYA
Selasa, 8 Oktober 2019 | 16:34:39
Gubernur Riau Sambut Baik Demonstrasi Terkait Karhutla
Kamis, 3 Oktober 2019 | 22:36:57
Jalinsum Longsor,Gubernur Riau Turun ke Lokasi
BERIKAN KOMENTAR
Top