• Home
  • Pelalawan
  • Poltak Parningotan Silitonga dan Kamaruddin Simanjuntak Sebut Hakim Cari Aman
Selasa, 12 Mei 2020 | 12:39:53
* Divonis 5 dan 7 Bulan

Poltak Parningotan Silitonga dan Kamaruddin Simanjuntak Sebut Hakim Cari Aman

aktualonline.com/Richard Simanjuntak
Manaek Siahaan bersama PH ketiga anaknya,di Pengadilan Negeri Pelalawan, Senin (11/-2020)
BERITA TERKAIT:

aktualonline.com.PELALAWAN ||| Sidang putusan atas keluarga Manaek Siahaan terhadap ketiga anaknya, Jhon Piter Siahaan, Daniel Siahaan dan Yusuf Siahaan dilaksanakan Senin, 11/05-2020 di Pengadilan Negeri Pelalawan berbuahkan banding dari penasehat hukum terdakwa.

 

Sesuai tuntutan jaksa yang menuntut terdakwa Yusuf Siahaan dengan tuntutan sepuluh bulan penjara, oleh hakim divonis Lima bulan penjara.

 

Sementara, Jhon Piter Siahaan dan adiknya Daniel Siahaan, dituntut Jaksa empat belas bulan, oleh hakim pengadilan negeri Pelalawan menjatuhkan vonis kedua Abang beradik ini selama tujuh bulan.

 

Ketiga Abang beradik Anak Manaek Siahaan, harus menjadi penghuni lapas Sialang bungkuk Pekanbaru, Setelah sebelumnya Yusuf Siahaan dilaporkan oleh abangnya sendiri Pdt. Iwan Sarjono, SH yang notabene anak dari Manaek Siahaan dengan tuduhan penganiayaan.

 

Sementara Jhon Piter Siahaan dan adiknya Daniel Siahaan dilaporkan oleh kedua anggota/jemaat Pdt. Iwan Sarjono, Darwin Mendropa dan charlin Mendropa, yang saat ini juga telah menjadi tersangka oleh polres Pelalawan dalam pasal 170 KUHP, sesuai dengan yang dilaporkan nya atas Jhon Piter dan Daniel Siahaan.

 

Tidak puas atas vonis Hakim Lima bulan atas terdakwa Yusuf Siahaan, membuat penasehat hukum terdakwa Kamaruddin bersama rekannya Poltak parningotan Silitonga, SH menyatakan banding.

 

Alasan banding ini menurut tim pengacara ini, karena kita yakin, bahwa Yusuf Siahaan adalah korban penganiayaan dari Pdt. Iwan Sarjono SH, sebut Kamaruddin Simanjuntak.

 

Kita, menghormati vonis terhadap klien mereka itu. Untuk vonis Lima bulan untuk Yusuf dan tujuh bulan untuk masing-masing Jhon Piter Siahaan dan Daniel Siahaan.

 

Menurut kita, vonis ini cukup bagus lah dengan menjatuhkan vonis setengah dari tuntutan jaksa penuntut umum yakni empat belas bulan dan sepuluh bulan menjadi tujuh bulan dan lima bulan, jelasnya.

 

Namun, Kamaruddin Simanjuntak menyayangkan, Hakim harus lebih berani untuk menjatuhkan vonis bebas terhadap para kliennya tersebut.

 

Terutama terhadap Yusuf, Hakim harus lebih berani untuk mengambil keputusan untuk membebaskan Yusuf dari segala tuntutan.

 

Namun, pihaknya menilai hakim seolah mencari aman, dengan cara membagi vonis terhadap jaksa dengan cara seolah-olah jaksa "mendapatkan kue"setengah, dan penasehat hukum terdakwa dibagi "kuenya" setengah.

 

Hakim disini belum mampu menyuarakan kebenaran sesuai dengan bukti dan keterangan saksi-saksi yang kita hadirkan dalam persidangan sebutnya.

 

Karena Yusuf ini adalah korban, namun karena tindakan Penyidik yang tidak bersikap profesional, maka Yusuf malah menjadi tersangka terang Kamaruddin.

 

Sementara itu, atas vonis majelis hakim yang diketuai oleh Melinda Aritonang, SH, Joko ciptanto SH,MH dan Nurrahmi SH sebagai hakim anggota oleh jaksa penuntut umum dari kejaksaan negeri Pelalawan, untuk vonis Lima bulan terhadap Yusuf Siahaan, Jaksa menyatakan banding, sementara untuk vonis terhadap Jhon Piter Siahaan dan Daniel Siahaan yang divonis tujuh bulan, pihaknya pikir-pikir.

 

Amatan Jurnalis aktualonline.com (Group Koran AKTUAL) yang mengikuti persidangan perseteruan keluarga ini, adanya kejanggalan- kejanggalan. mulai dari penetapan pasal 351 untuk Yusuf Siahaan, oleh penyidik terkesan dipaksakan. Karena berdasarkan keterangan saksi-saksi akibat adanya tindakan fisik yang terjadi, tidaklah tepat penetapan pasal 351, namun pasal 352 KUHP. Karena dalam insidentil ini, baik Yusuf maupun Iwan tidak ada luka atau yang mengakibatkan mereka menjadi terganggu dalam melakukan pekerjaannya.

 

Dalam keterangan Iwan Sarjono dalam persidangan yang merobah pernyataan dalam BAP. Bahkan, Iwan Sarjono yang menyebutkan bahwa pernyataan dalam BAP adalah karangan dari Penyidik Polres Pelalawan, tetapi oleh majelis hakim tidak menjadi perhatian serius.

 

Bahwa, Hakim mengabaikan tentang kepemilikan kebun sawit, yang oleh Iwan Sarjono keterangan nya berubah-ubah. Awalnya Iwan mengklaim bahwa dirinya memperoleh kebun sawit dari pamannya Pdt. Parningotan Siregar dengan didampingi istrinya, ibu Silitonga. Lalu Iwan malah mengubah nya dengan mengatakan bahwa Kebun sawit tersebut ia peroleh dari Ninik mamak.

 

Namun atas keterangan saksi Bendi sebagai Ninik mamak, menyangkal ada menghibahkan tanah kepada Iwan Sarjono. Yang benar dalam kesaksiannya Bendi mengatakan bahwa dirinya ada menghibahkan tanah kepada Bapak Manaek Siahaan Tahun 2008.

 

Atas keterangan pada fakta persidangan ini, seperti yang disampaikan oleh tim penasehat hukum terdakwa, bahwa Hakim tidak punya keberanian menyatakan kebenaran, alias Hakim mencari aman saja bolehlah dipertimbangkan kebenarannya.

 

Adalah Hakim seharusnya sebagai pengambil keputusan dapat melihat kasus keluarga Manaek Siahaan ini secara jernih.

 

Adalah Iwan Sarjono yang telah melaporkan Ayahnya sendiri Manaek Siahaan baik di Polsek pinggir, Polda Riau hendaklah menjadi perhatian Hakim dalam mengambil keputusan.

 

Adalah Iwan Sarjono sebagai Rohaniawan, telah menjadi saksi untuk perceraian Ayah dan ibunya, seperti yang dirindukan Yusuf Siahaan untuk disatukan kembali keluarga besarnya.

 

Untuk ingatan, sebelumnya media ini telah melansir adanya laporan Yusuf Siahaan atas pdt. Iwan Sarjono yang menganiaya Yusuf dan telah dilaporkan pada 05 Desember 2019 lalu.

 

Namun oleh penyidik polres Pelalawan sepertinya tidak ada tindak lanjutnya alias jalan ditempat.

 

Sebelum, Penyidik Polres Pelalawan, Jumat 01/05- 2020, Aipda Bertoni Yusuf Sitompul, melalui ponselnya mengatakan akan mengirimkan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan kepada Bapak Kamaruddin, namun sampai berita ini sampai didapur redaksi, ditanyakan kepada Kamaruddin, tidak ada menerima surat seperti yang dimaksudkan.

 

Dihubungi berulang kali Aipda Bertoni Yusuf Sitompul, ponselnya tidak dapat dihubungi. 

 

Seorang Raja yang bijaksana dalam sebuah kitab mengatakan, Kalau engkau melihat dalam suatu daerah, orang miskin ditindas, hukum serta keadilan diperkosa, janganlah heran akan perkara itu.Karena pejabat tinggi yang satu mengawasi yang lain, begitu pula pejabat-pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka. (Ada mata yang maha kuasa memperhatikan).||| Richard Simanjuntak

 

 

 

 

 

Editor : Zul


BERITA LAINNYA
Jumat, 26 Juni 2020 | 12:45:26
Disinyalir PT PLN “Tutup Mata"
BERIKAN KOMENTAR
Top