Senin, 30 Desember 2019 | 11:51:58

Persepsi Seseorang Yang Mengalami Toxic Relationship

Oleh : Dea Yulianisa
Foto/Ist
BERITA TERKAIT:

Apa sih sebenarnya persepsi itu ?

Persepsi itu merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu, maka apa yang ada di dalam individu ikut aktif dalam persepsi. Berdasarkan hal tersebut, maka persepsi dapat dikemukakan karena perasaan, kemampuan berpikir, pengalaman-pengalaman individu.

Kenapa persepsi itu bisa ada ?

Persepi itu ada karena manusia yang memiliki kemampuan kognitif untuk memproses informasi yang diperoleh dari lingkungan di sekelilingnya dengan akal yang dimilikinya, lalu manusia itu membuat penilaian terhadap apa yang dilihat atau dirasakannya serta berpikir untuk memutuskan apa yang hendak dilakukan kemudian. Salah satu contoh persepsi yang ada yaitu pesepsi mengenai Toxic Relationship. 

Toxic Relationship merupakan hal yang baru akan disadari ketika hubungannya makin lama dan makin parah. Saat awal memiliki hubungan dengan seseorang malah ia akan senang jika dicemburuin, dimarahin, dengan alasan d  ia sayang. Toxic relationship adalah hubungan yang tidak menyenangkan bagi diri sendiri atau orang lain. Hubungan ini juga akan membuat seseorang merasa lebih buruk. Ciri-ciri  toxic relationship antara lain, merasa tidak aman, ada kecemburuan, keegoisan, ketidakjujuran, sikap merendahkan, memberi komentar negatif, dan mengkritik. Seseora ng yang terjebak dalam toxic relationship dapat menyebabkan terjadinya  konflik batin dalam diri. Konflik batin ini akan mengarah pada amarah, depresi, atau  kecemasan. Pada intinya,  toxic relationship menyebabkan mereka yang terlibat di dalamnya kesulitan untuk hidup  produktif  dan sehat. 

Tapi, pandangan atau persepsi seseorang yang belum mengetahui apa itu toxic relationship dan bagaimana penyebab relationship itu sendiri sebenarnya itu wajar. Karena hal ini terjadi secara perlahan tanpa disadari yang lama kelamaan keadaan itu bisa saja berubah.       Biasanya semakin lama kita menjalin hubungan dengan seseorang maka akan banyak juga terjadi perubahan. Dalam kehidupan, seseorang pasti akan mengalami perubahan karena dalam hidup banyak hal-hal baru yang akan kita lalui dan rasakan. Seseorang akan berpikir pada saat PDKT itu masanya sangat indah, romantis, hingga tidak ada yang membayangkan nantinya saat ditengah jalan kita akan merasakan jenuh. Tidak sedikit orang menginginkan hubungannya kembali seperti semula. Namun,jika seseora ng mengingkinkan keadaan yang seperti dulu berarti ia menginginkan ke burukan-keburukan itu terjadi kembali.

 

Saat terjadi perubahan, maka ia harus bisa beradaptasi dengan peruba han tersebut karena untuk kedepannya perubahan itu akan terus terjadi. Kita harus terus belajar bagaimana menyikapi perubahan yang terjadi dalam suatu hubungan. Jika hubungan ini tidak diimbangi dengan rasa kompromi dan toleransi maka tidak akan bisa. Inti dari sebuah hubungan selain dari komunikasi yaitu bertumbuh, jika diantara mereka ada yang menolak untuk bertumbuh bersama ia pasti akan menemukan titik jenuh, dia berubah dan tidak lagi sesuai dengan apa yang diharapkan.

 

Saat seseorang marah pada pasangannya dengan cara yang kasar sebenarnya dia tidak bisa mengekspresikan dengan cara yang agak lebih baik itu yang membuat toxic nantinya. Seperti cemburu berlebihan, memiliki ekspektasi yang banyak terhadap pasangan untuk dibahagiakan karena ia tidak bisa mengekspresikan kekesalannya dengan cara yang lebih baik. Daripada berdiskusi atau cerita ke teman, seseorang lebih memilih untuk menghakimi dan menunjukkan perasaan egoisnya.

 

Toxic juga terjadi karena perbedaan pikiran antara seseorang dengan pasangannya. Perbedaan tersebut bisa saja menjadi satu jika seseorang mau untuk dituntut dan belajar bersama-sama, serta berjuang hingga akhirnya ia mengerti. Salah satu keadaan yang menunjukkan saat seseorang berada dalam toxic relationship yaitu ketika dalam menjalin hubungan seseorang sering berkata kasar terhadap pasangannya, selalu menghabiskan waktu dengan pasangannya, sering diremehkan seperti nilai yang didapatkan jauh diatas pasangannya dan merasa bahwa ia lebih pintar dari pasangannya.

 

Setiap mereka bertengkar, dia selalu mengatakan pasangannya lemah, cemen, mental lembek dll hingga akhirnya pasangan tidak menangis saat diperlakukan seperti itu lagi. Namun pasangan balik membalas perlakuan tersebut dengan membentak, berteriak, dan berkata-kata kasar juga. Namun pasangan menyadari kesalahannya yang membalikkan perlakuan buruk tadi. Setelah mengalami perlakuan tersebut hingga tidak menangis pasangan ini merasa emosi tidak stabil, caranya memanajemen perasaan tidak seperti dulu lagi.  Perubahan dalam dirinya belum sepenuhnya balik seperti keadaan semula. Lama kelamaan pasangan menyadari ia berada di hubungan yang toxic. 

Namun ia tidak memutuskan untuk tidak meninggalkan begitupula dengan sahabatnya. Tapi pasangan tetap tidak mau meninggalkannya karena takut jika memang putus kira-kira sanggup apa tidak karena kemana-mana dia selalu bareng dengan pasangannya. Pasangan berpikiran bahwa cowok itu tidak punya siapa-siapa. Pasangan beranggapan bahwa ia satu-satunya yang dimiliki cowok sehingga pasanganlah yang dapat mengubah sikapnya. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya pasangan berubah menjadi pribadi yang lebih buruk dari sebelumnya. Selama pasangan berhubungan dengan orang itu hampir setiap hari ia merasa cemas, was-was, hingga berpikir hari ini berantem apalagi ya, hari ini apakah bikin dia marah lagi ya jadi perasan itu selalu ada setiap hari. Akhirnya pasangan memutuskan untuk mengakhiri hubungan sebenarnya bukanlah karena toxic relationship yang telah disadari. Pasangan putus karena ada suatu masalah yaitu saat pasangan tidak menyelesaikan pekerjaan yang diberikan. Dia merasa pasangan meremehkannya, tidak menghargainya karena pasangan tidak mengerjakan pekerjaan yang ia berikan. Padahal tidak, hanya karena tidak sempat mengerjakannya dan mereka memutuskan untuk tidak bersama lagi. 

Dari uraian diatas dapat kita lihat bahwa awalnya ia tidak menyadari telah berada dihubungan yang toxic. Lama kelamaan hubungan yang dijalani oleh seseorang itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan dan diharapkannya. hal tersebut disebabkan karena kehidupan ini secara terus menerus berjalan dan menuntun seseorang untuk berubah. Jika kita tidak dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi maka kita akan merasa tidak sanggup untuk menjalaninya. 

Adapun orang yang mengalami toxic relationship tidak mudah baginya untuk keluar dari zona ini. Walaupun orang terdekat sudah menyuruh untuk meninggalkan namun ia tidak akan menerima begitu saja. 

Menurutnya masih ada pertimbangan-pertimbangan lain yang akan dilaku kan demi hubungan tersebut ataupun atas kemauannya sendiri. Setelah ia keluar dari keadaan tersebut, baru ia menyadari bahwa sebelumnya ia telah menjalani toxic relationship. Namun demikian, perasaan itu masih tersimpan dalam diri seseorang. Efek dari toxic relationship itu masih berdampak dimana kejadian itu juga terjadi dimimpi yang saling berantem dengan mantannya, teriakan, mengata-ngatai satu sama lain. Padahal kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu seolah ia masih menyimpan perasaan takut dan was-was itu. (Penulis adalah Mahasiswi Psikologi Islam Universitas Imam Bonjol-Sumatera Barat) 


BERITA LAINNYA
Kamis, 26 Desember 2019 | 02:17:08
Ingatan Kita Didominasi Oleh Masa Lalu ?
Kamis, 26 Desember 2019 | 00:54:37
Juara Kelas Tidak Bisa Menjadi Patokan Anak Itu Cerdas
Kamis, 26 Desember 2019 | 00:37:10
Lebih Mudah Mengingat Gambar Atau Tulisan ?
Rabu, 25 Desember 2019 | 00:54:07
Begadang dan Pengaruhnya Terhadap Atensi
Minggu, 22 Desember 2019 | 01:35:13
Persepsi Sarana Pemersatu Bangsa
Jumat, 20 Desember 2019 | 01:24:15
Pengaruh Handphone Terhadap Daya Ingat Pada Remaja
Kamis, 19 Desember 2019 | 13:21:06
Mengembangkan Kecerdasan Anak Penyandang Tuna Grahita
Kamis, 19 Desember 2019 | 13:00:54
Otak Perlu Dirawat Agar Tidak Pikun Dimasa Tua
Kamis, 19 Desember 2019 | 12:25:35
Bahasamu Membunuhku
Kamis, 19 Desember 2019 | 11:52:36
Ancaman Demensia Tak Bisa Dianggap Remeh
Rabu, 18 Desember 2019 | 12:15:49
Jangan Bentak Anak ! Ini Dampaknya
Sabtu, 13 April 2019 | 00:24:04
Kisah Umang (orang bunian) di Tanah Karo
BERIKAN KOMENTAR
Top