• Home
  • Simalungun
  • Dituding Feodal Pihak PTPN II, III dan IV Enggan Kembalikan Lahan ‘Berkedok Bungalow’ di Parapat
Rabu, 12 Februari 2020 | 15:53:16

Dituding Feodal Pihak PTPN II, III dan IV Enggan Kembalikan Lahan ‘Berkedok Bungalow’ di Parapat

aktualonline.com/Jes Sihotang
Dituding Feodal Pihak PTPN II, III dan IV Enggan Kembalikan Lahan ‘Berkedok Bungalow’ di Parapat
BERITA TERKAIT:

aktualonline.com. SIMALUNGUN |||| Warga Tigaraja, Kelurahan Tigaraja Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun, Sumut mulai berang dengan sikap penguasaan dan pengusahaan 5 Ha lebih tanah milik Kelurahan Tigaraja diduga dikuasi PTPN II, III dan IV secara feodal, dan didalamnya hanya mendirikan sejenis Bungalow, berikut  Mess yang kerab ditempati keluarga internal para pemilik perkebunan berplat Merah itu.

 

Jelas kita kecerwa, kota wisata Parapat ini butuh pengembangan secara menyeluruh, tetapi akibat penguasaan lahan strategis ditangan PTPN II, III dan PTPN IV ini, kota ini kadang seperti kota mati, karena arealnya tidak bisa kita manfaatkan, walau hanya sebagai lokasi parkir, kecuali mereka yang mempergunakan sendiri. Untuk itu diharapkan, supaya Pemkab Simalungun menarik semua lahan milik Pemkab itu kepangkuan Simalungun, dan silahkan dimanfaatkan dengan berbagai kepentingan umum, secara kusus untuk mendukung dunia pariwisata dikota Parapat ini. Demikian disampaikan B Rumahorbo (50), di Parapat, Rabu (12/2/2020)

 

Menurutnya, selain bangunan-bangunan kuno yang mulai merusak pemandangan dan jarang di cat itu, kondisinya kini seperti menjadi seolah milik pribadi mereka sebab tak semua orang sembarangangan bisa memasuki areal mereka, baik menggunakan bibir pantai Danau Toba untuk sekedar mandi-mandi dan apalagi untuk rekreasi lainnya, Katanya.

 

Jadi untuk apa Bungalow-Bungalow PTPN itu dipertahankan di Parapat jika hanya mempersempit areal wiasata ke Parapat?.  Sementara masyarakat yang tinggal di Parapat dan Tigaraja secara khusus saat ini butuh lahan untuk mencari nafkah demi kebutuhan keluarganya, maka menurut saya keberadaan semua bangunan PTPN di Parapat ini perlu ditinjau ulang sekaligus mencabut MoU dengan pihak PTPN , sebab jika dibiarkan demikian, jangan-jangan areal kita ini di 50tahun kedepan dipindahtangankan pula, Kata Rumahorbo.

 

Uniknya semua bangunan berplang PTPN II, III, dan IV yang kebanyakan memakan tempat di Kelurahan Tigaraja (sebagai pusat Wisata Parapat), untuk itu kami sebagai warga mendukung kebijakan Pemkab Simalungun karena kami sadar bahwa sejak 40tahun lebih penguasaan dan pengusahaan areal-areal itu tak sepeser pun kita dapatkan sebagai bentuk Community Social Responsibility (CSR) atau pembagian hasil keuntungan perusahaan dari pihak PTPN kepada Kecamatan Girsip ini. Katanya.

 

Warga lainnya juga berharap agar Pemkab Simalungun bersama DPRD Simalungun tidak tinggal diam atas penguasaan dan pengusahaan lahan dimaksud, sebelum kejadian seperti kejadian 'Lapangan Golf  Parapat' yang awalnya pinjam pakai dan kini menjadi milik Patrajasa Confort Parapat dan entah bagaiman ceritanya lagi, kami jelas kecewa dan kalau boleh mohon itu diusut juga, Ujar P Sinaga (50) di Confrensi Hall Parapat.

 

Disisi lain, M Siallagan berharap agar lahan dan areal yang diusahai dan dikuasai oleh PTPN II,III dan IV segera dikembalikan kepada Pemkab Simalungun, sehingga dapat mendorong pertambahan pendapatan Asli Daerah (PAD) dari lahan-lahan strategis untuk dijadikan sebagai obyek wisata itu, lokasi parkiran dan lokasi hiburan rakyat lainnya, atau membangun pusat jajanan demi peningkatan ekonomi rakyat, Kata Siallagan.

 

Dilain pihak sesuai informasi, bahwa pihak PTPN yang mendirikan bangunan Bungalow-Bungalow yang sudah puluhan tahun itu hanya menggunakan berkas Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dimana lahan itu sepertinya dikontrak oleh pihak PTPN dan Pemkab Simalungun dapat menarik kembali semua lahannya, sebab kehadiran Bungalow milik PTPN itu ada di 8 (Delapan) titik strategis, Katanya. ||| Zest.

 

FOTO: Inilah potret lahan strategis yang dikuasai dan diusahai oleh PTPN Nusantara II (PTPN II) dengan ‘modus’ mendirikan bebebarapa buah bangunan yang kini sudah diangap Kuno untuk wajah kota Wisata parapat , lahan yang satu ini berkisar 1 Ha di jalan menuju Gereja HKPB Parapat-Katolik Parapat dan persis di depan Asrama Polsek (Aspol) Parapat, Lahan dikuasai oleh PTPN II, III dan IV di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Simalungun berkisar 5 Ha. ||| Jes Sihotang

 

 

 

 

 

Editor : Zul


BERITA LAINNYA
Senin, 17 Februari 2020 | 23:13:03
Ketua PHRI Simalungun Meninggal Dunia
Sabtu, 15 Februari 2020 | 12:24:40
Mandi Hujan, Bocah Andre Terseret Arus Parit Irigasi
BERIKAN KOMENTAR
Top