• Home
  • Sumut
  • Ahli Waris Op.Padua Pasaribu Tolak Pembangunan Patung Yesus
Minggu, 24 Juni 2018 | 23:58:32

Ahli Waris Op.Padua Pasaribu Tolak Pembangunan Patung Yesus

Foto/Ist
Ahli Waris Op.Padua Pasaribu Tolak Pembangunan Patung Yesus

aktualonline.com.SAMOSIR///Pembangunan patung Yesus di Bukit Sibara-bara,Desa Janji Martahaan,Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir yang mengatasnamakan Yayasan Jadilah Terang Danau Toba dengan Dewan Pembinanya Sudung Situmorang yang menjabat sebagai staf Kejagung ditolak ahli waris Op Padua Pasaribu.

 

Ahli waris Op Padua Pasaribu bersikukuh bahwa lahan yang akan dibangun Patung Yesus tersebut "dirampok" oleh pihak Yayasan.Bahkan dengan ikut campur nya pihak Pemkab Samosir sehingga berlanjutnya pembangunan membuat pihak ahli waris Op Paduan Pasaribu melakukan perlawanan dan melakukan aksi unjukrasa di Jalan Pintu masuk ke lokasi lahan pembangunan.

 

Dalam orasinya, ahli waris Usman Pasaribu,Sahril Pasaribu,Ronal Pasaribu,Aledy Pasaribu merupakan keturunan dari Op. Panduan Pasaribu menyampaikan  kepada Pemerintah Kabupaten Samosir untuk tidak memberikan segala bentuk izin pembangu nan tersebut.

 

"Pemerintah jangan memberikan izin dalam bentuk apa pun di atas tanah oppung kami dari Sibara-bara sampai ke Simussung-mussung.

 

Kami menolak, menolak peletakan batu pertama yang dilakukan Yayasan Jadilah Terang Danau Toba, karena itu adalah tanah oppung kami," teriak mereka.

 

Mereka menyatakan bahwa belum adanya kesepakatan penyerahan tanah tersebut kepada Yayasan. Selain itu, juga telah menyurati Pemerintah Kabupaten Samosir terkait tanah tersebut, namun tidak digubris oleh pemerintah.

 

"Belum pernah sepakat dan mufakat untuk menyerahkan tanah kepada siapapun. Untuk itu kami meminta transparansi," teriak mereka.

 

Mereka menyatakan bahwa belum adanya penyerahan tanah tersebut kepada Yayasan. Selain itu, juga telah menyurati Pemerintah Kabupaten Samosir terkait tanah tersebut, namun tidak digubris oleh pemerintah.

 

"Kami telah menyampaikan ini (penolakan-red) melalui lisan dan tulisan. Namun, pemerintah tidak menggubris atau tidak menanggapi," ujar salah seorang orasi.

 

Selain melakukan perlawanan dengan melakukan unjukrasa,para ahli waris juga melakukan ritual mengigat makam keturunan orang tua mereka tersebut masih berada di lahan yang di rampas tersebut sehingga " perang gaib " dilakukan guna mempertahankan hak mereka itu.

Untuk diketahui, pembangunan patung Yesus yang direncanakan setinggi 61 meter itu dibangun melalui Yayasan Jadilah Terang Danau Toba. Yayasan yang diketuai Sudung Situmorang, melalui Sekretaris Panitia pembangunan patung Yesus, mengatakan bahwa patung Yesus itu akan menjadi yang tertinggi di dunia.

 

Sementara itu, peletakan batu pertama telah dilaksanakan pada  Minggu,17 Juni 2018). Tampak terlihat dihadiri Bupati Samosir Drs. Rapidin Simbolon, Ketua DPRD Samosir Rismawati Simarmata, Kajari Samosir Edward Malau.

 

*Perampasan lahan berdampak kejadian di Tiga Ras

Akibat adanya perampasan lahan milik leluhur Pasaribu  secara logikanya gak masuk akal akan tetapi dari kaca para normal berdampak imbasnya.

 

Menurut Abel Sirait mantan Sekeratirs Paranormal Sumut mengakui bahwa lahan ataupun Dolok (bukit)  yang ada di Samosir tersebut memiliki mitos ataupun sejarah karena di kabupaten itu lahan milik keturunan siapapun sama sekali tidak memiliki surat karena mereka itu sudah tertanam budaya turun temurun.

 

Kejadian tenggelamnya Kapal penumpang KM Sinar Bangun tujuan Tiga Ras - Simanindo ada kaitanya dengan penyerobotan dolok (bukit) milik keturunan Op Panduan pasaribu mengigat para keturunannya tak terima sehingga mereka itu mengaduh kepada orang tua mereka yang selama ini mengusaha lahan tersebut.

 

"Anda boleh percaya atau tidak akan tetapi begitu acara ritual dilakukan, sehari sebelum kejadian tersebut terjadi peristiwa alam dimana minggu 17Juni 2018 yang lalu suasana alam di danau toba gelap gulita dan disertai angin kencang dan tak lama hujan dan dari danau itu keluar tiga orang yang saat itu berjalan menuju lokasi lahan yang di rampas tersebut dengan muka marah."terang Abel.

 

Tentu saja, tanda-tanda tersebut berdampak besar dan kalau di lihat ada kaitan kejadian perampasan lahan tersebut dengan kejadian kapal yang tenggelam tersebut mengingat bakal ada tumbal.

 

Jadi apabila lahan ataupun dolok tersebut tetap "dirampok " karena kekuasaan niscaya kejadian aneh bakal terjadi di somosir mengigat adanya keterlibatan bupati di dalamnya.///G.Ade.Sir

 

 

 

 

Editor : Zul


BERITA LAINNYA
Rabu, 18 Juli 2018 | 00:02:47
PKH Jadi Polemik Warga Gunungsitoli
Senin, 16 Juli 2018 | 21:46:30
Kapal Jenis Roro Akan Beroperasi di Danau Toba
Senin, 16 Juli 2018 | 21:24:00
Wali Kota Resmikan Sekolah Medan Mulia
BERIKAN KOMENTAR
Top